Filsafat

Patungan Tiga Punggawa 687 Keping Koin Emas di Atas Air Mata Bencana

Oleh: Administrator 268 kali dibaca
Patungan Tiga Punggawa 687 Keping Koin Emas di Atas Air Mata Bencana

Dialog Imajiner dengan Maktuan

Oleh: Razaliardi Manik, Ketua Umum Komite Pusat Gerakakan Rakyat Miskin (Gerimis) Aceh.

Alkisah, di zaman antah berantah dahulu kala, berdirilah sebuah negeri pesisir bernama Kerajaan Singkek Purba. Negeri yang sejatinya dikaruniai tanah yang subur dan air yang melimpah ini, justru kerap dirundung nestapa akibat siklus bencana air bah yang rutin menenggelamkan pemukiman rakyatnya. Namun, bencana terbesar yang sesungguhnya menimpa kerajaan bukanlah amukan alam, melainkan kebobrokan moral akut yang telah menjangkiti dinding-dinding istana.

Di bawah kepemimpinan para penguasa lalim, praktik lancung berupa upeti dan manipulasi pundi-pundi kerajaan telah bergeser dari sekadar pelanggaran menjadi sebuah tradisi yang dimaklumi. Korupsi tidak lagi dianggap sebagai aib yang memalukan, melainkan telah mengakar menjadi sebuah kebudayaan luhur yang dipraktikkan secara sistemik di berbagai sektor pelayanan publik.

Dari urusan pembangunan benteng pertahanan, pemeliharaan lumbung pangan rakyat, hingga urusan jubah pembelajaran bagi anak-anak madrasah, semua tak luput dari potongan kepingan emas para tikus istana.

Para punggawa dan pejabat tinggi saling bertukar muka, melegalkan segala cara demi menumpuk harta pribadi atas nama kelancaran administrasi kerajaan. Hati nurani telah mati di dalam dada mereka. Air mata rakyat yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir tak lagi mampu mengetuk empati, melainkan dipandang sebagai celah dan ladang baru untuk meraup keuntungan finansial.

Di tengah atmosfer moral yang telah membusuk inilah, sore itu di sebuah teras rumah yang bersahaja, Maktuan duduk tegak dengan raut berwibawa, siap membedah borok kekuasaan bersamaku yang datang membawa segulung catatan kritis tentang skandal terbaru Kerajaan Singkek Purba.

Melihat kehadirank yang melangkah ragu di pekarangan rumahnya, Maktuan menurunkan kitab kuno yang sedang dibacanya, lalu melambaikan tangan mempersilakan saya masuk ke teras. Beliau menatapku lekat-lekat dari balik kacamata bacanya, lalu mempertanyakan apa gerangan yang membawa langkahku bertamu di sore hari yang sunyi itu, seolah tahu ada beban berat yang sedang menggelayuti pikiranku.

Sambil menikmati secangkir kopi, aku mulai membuka percakapan.

Saya: "Maktuan, bayangkan betapa hancurnya moral para punggawa dinegeri kerajaan yang kita cintai ini. Kerajaan kita adalah sebuah negeri kaya di pesisir, namun rakyatnya kerap menangis karena pemukiman mereka sering tenggelam dihantam bencana air bah."

Maktuan: Lalu, drama apa yang sedang terjadi di dalam istana Kerajaan Singkek Purba kita ini?" katanya bertanya sambil menurunkan kitab yang dibacanya.

Saya: “Sekarang Adipati Luhur yang berkuasa saat ini bersama dua Punggawa Urusan Pembelajaran di dinas kerajaan, kedapatan mengusik pundi-pundi suci. Itu adalah Pundi Darurat Air Bah, uang yang dikumpulkan dari air mata dan keringat rakyat untuk menolong korban bencana. Tapi oleh mereka, pundi itu malah disulap untuk proyek pengadaan jubah seragam anak-anak madrasah secara culas," kataku.

Maktuan: “Sungguh nista. Bencana alam dijadikan ladang pesta pora istana. Lalu, bagaimana cara para punggawa itu menyembunyikan kejahatannya?" Wajah Maktuan seketika mengeras, nadanya tegas.

Saya: Mereka menyewa Saudagar Bayangan dari Negeri Seberang. Perusahaan milik saudagar berbendera CV LGM dibajak secara sepihak tanpa sepengetahuan sang pemilik sah. Lewat 'Sistem Pasar Gaib', mereka menetapkan harga jubah yang sangat tinggi, memesan kain kualitas rendah dari pandai kain luar daerah, lalu memotong emas keuntungan untuk kantong mereka sendiri.

“Tapi, perbuatan mereka akhirnya tercium oleh Dewan Penyelidik Telisik Senyap para ksatria hukum kerajaan."  Aku memaparkan panjang lebar persoalan yang terjadi di kerajaan ini. Maktuan menganggunk-angguk, matanya menatap tajam penuh ketegasan hukum.

Maktuan: "Ksatria Dewan Penyelidik Telisik tidak boleh terkecoh. Hukum tata negara kerajaan mana pun tahu, manipulasi 'Pasar Gaib' itu adalah kejahatan jabatan yang terencana. Lalu, saat Dewan Penyelidik mulai menggeledah ruang-ruang dinas pembelajaran, apa yang dilakukan para tikus istana itu?" tanya Maktuan.

Saya: "Nah, di sinilah puncak komedinya, Maktuan. Ketika pengawas kerajaan menemukan ada kekurangan emas sebesar 687 keping koin emas dari pundi bencana tersebut, terjadilah kepanikan. Uang itu akhirnya dikembalikan ke kas kerajaan, tapi bukan dari satu tangan. Tiga orang aktor ini patungan! Dua Punggawa Teknis Pembelajaran ikut menyetor, namun Sang Adipati Luhur yang menjadi penikmat utama aliran emas paling banyak, ialah yang menyetor porsi kepingan emas terbesar demi menyelamatkan lehernya!" Maktuan seketika berdiri dari kursinya dengan wibawa mengintimidasi.

Maktuan: "Dengar baik-baik, Nak! Sampaikan ini pada seluruh rakyat di alun-alun kerajaan! Di dalam hukum sejati, pengembalian kepingan emas yang dicuri tidak pernah menghapus dosa pidananya! Fakta bahwa mereka patungan justru adalah bukti mutlak adanya persekongkolan jahat."

Saya: Tetapi Maktuan, saat ini Dewan Penyelidik Kerajaan masih bergerak, gerakan mereka senyap tanpa merilis nama para tersangka. Tapi meski begitu, rakyat mulai gelisah, takut jika hukum hanya tajam ke punggawa kecil bawahannya saja.

“Di sinilah sebetulnya peran penting para Penyurat Kabar Kerajaan," aku mencoba menjelaskan peran para penyurat kabar kepadanya. Mendengar itu, Maktuan kembali duduk. Ia menatapku dengan tatapan penuh penghargaan.

Maktuan: "Ah, benar sekali! Peran para Penyurat Kabar di alun-alun kerajaan itu laksana obor di malam yang pekat. Tanpa tulisan dan investigasi tajam dari mereka yang berani, taktik senyap Dewan Penyelidik bisa-bisa berubah menjadi 'peti es' yang membekukan kasus ini. Jangan sampai kebenaran terkubur!," katanya.

Saya: "Tepat, Maktuan. Penyurat Kabar-lah yang bertugas meniup sangkakala informasi agar tirai istana yang tertutup rapat bisa tersingkap. Ketika ksatria hukum memilih bergerak tanpa suara, pena para Pesurat Kabar tidak boleh ikut bungkam. Merekalah yang harus terus mengorek informasi dari informan dalam istana, menelusuri aliran kepingan emas hasil patungan para punggawa dan Adipati Luhur, dan menyiarkannya ke seluruh pelosok negeri.

Tanpa desakan publik yang dipantik oleh berita para Penyurat Kabar ini, Sang Adipati Luhur bisa saja melenggang kangkung bersembunyi di balik tameng kekuasaannya."

Maktuan: "Benar, Nak. Pena Penyurat Kabar yang jujur itu lebih tajam daripada mata pedang ksatria manapun. Mereka adalah pilar penyeimbang kerajaan. Tugas mereka adalah memastikan hukum tidak tebang pilih. Jika Penyurat Kabar terus bersuara, Dewan Penyelidik tidak akan punya alasan untuk mundur atau melunakkan tuntutan," timpalnya, sembari menepuk meja dengan mantap.

Maktuan lantas menjeda kalimatnya, suaranya bergaung penuh penekanan.
 

“Siapa yang memetik keuntungan materil terbesar, dialah yang memegang bobot kesalahan tertinggi! Melalui tulisan para Penyurat Kabar, kita dukung sekaligus kita desak Dewan Penyelidik untuk berani. Jangan hanya menyeret punggawa-punggawa teknis yang malang di bawah.”

“Seret dan tangkap Sang Adipati Luhur, sang penikmat utama aliran dana yang ikut patungan pengembalian 687 keping koin emas itu sebagai tersangka utama! Biar runtuh keserakahan di atas tanah Singkek, dan biar anak-anak memakai jubah sekolah mereka dengan martabat, bukan dengan kain yang dibeli dari sisa uang air mata banjir rakyatnya!" Aku tersenyum puas, mendengar kalimat Maktuan.

Saya: "Tajam sekali, Maktuan. Kolaborasi antara taktik hukum dan kelantangan pena para Penyurat Kabar akan menjadi akhir dari kecongkakan Sang Adipati," kataku menutup pembicaraan dengan Maktuan.(***)

Bagikan: